SIAPA AKU
Karya Baiq Trinadia Alundari
Usiaku masih belia hidup di atas tanah suku Sasak.
“Namaku Zana tinggal di Dusun Ranget Desa Suranadi kecamatan Narmada Lombok Barat”.
Begitu kataku saat dipersilahkan guru untuk memperkenalkan diri. Ya hari ini adalah hari pertama masuk sekolah yang dibuka dengan pelajaran sejarah. Aku siswi terakhir sekaligus menutup perkenalan hari ini.
Ibu Lia, nama guru mata pelajaran sejarah. Lia yang artinya pembawa berita baik. Mungkin saja arti namanya itu bisa menjadikannya guru yang memberikan informasi baik dalam mata pelajaran ini, kataku dalam hati.
“Ibu ingin tahu, apakah ada diantara kalian yang benar-benar tahu sejarah tempat tinggalnya? bisa menceritakan langsung di depan ibu dan teman-teman.”
Itulah kalimat pertama yang dikeluarkan dari seorang guru sejarah ini. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, tak ada satu pun dari kami yang berani maju. Kalau aku tentu tidak ingin karena apa yang akan aku ceritakan? Aku saja tidak tahu apa-apa tentang tempat tinggal sendiri.
Dua menit berlalu tanpa ada satu pun teman temanku yang berani maju. Bu Lia tersenyum dan berkata “Apakah kalian semua tidak tahu indentitas kalian sendiri ? Tempat kalian lahir dan dibesarkan ?”
Di sambut dengan gelengan kepala dan mencoba menjelaskan betapa pentingnya kita mengetahui sejarah tempat yang kita pijak.
“Baiklah, Minggu depan kalian ibu minta untuk menuliskan sejarah peninggalan nenek moyang di daerah masing-masing.” Tutupnya setelah memaparkan begitu banyak penjelasan.
Bel pulang berbunyi, tak terasa tiga mata pelajaran telah terlampaui, harusnya sih empat, tapi karena sedang ada rapat guru, maka jam pulang sekolah lebih awal.
Aku berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, karena jarak sekolah dan rumahku tidak begitu jauh, hanya butuh waktu 10-15 menit saja untuk sampai. Aku selalu lewat jalan pintas agar bisa melewati mata air yang kalau kita mendengar setitik airnya yang jatuh ke sungai akan terasa mendamaikan jiwa. Ditambah segarnya udara yang melewati pohon-pohon hijau saat melewati lubang hidungku, akan terasa sangat memanjakan pikiran. Ahh aku terlalu lebay, hmm tapi itulah yang kurasakan saat berangkat atau pulang sekolah jika melewati jalan pintas.
Aku rasa saat masih menginjak usia kanak-kanak, tak ada kulihat tembok-tembok besar ini menutupi tempat yang biasanya masyarakat disini berkumpul untuk acara silaturahim. kebingunganku tiba-tiba saja datang saat aku tepat berjalan melewati tempat ini.
Kenapa aku tiba-tiba ingat mata pelajaran sejarah ya, gumamku. Saat sampai rumah nanti, aku akan bertanya kepada ibu. Sontak melebarkan jejakku agar cepat sampai rumah.
***
Ibu yang sedang memetik daun bayam di halaman rumah. Melihat gadis satu-satunya itu pulang sekolah, ibu langsung menyambut hangat kedatanganku.
“Bagaimana hari pertama sekolah, menyenangkan bukan?” sambil menaruh bayam di baskom.”
“Bu, aku ingin tahu, mengapa ada tembok- tembok besar yang mengelilingi tempat yang sering diramaikan untuk kegiatan masyarakat dulu Bu ?” jawabku tanpa menghiraukan pertanyaan awal.
“Zana baru menanyakan itu sekarang? Padahal kan Zana setiap pulang sekolah melewati tembok-tembok itu.” Jawabnya kembali.
“Yah bagaimana, aku jadi kepikiran karena tadi pelajaran sejarah, ibu guru meminta kami untuk menuliskan sejarah peninggalan nenek moyang.” sautku malu-malu.
“Zana, kamu pernah dengar istilah Kemaliq ?” Ibu menatapku.
***
Seminggu kemudian, pelajaran sejarah kembali dimulai. Ibu Lia seperti tidak sabar ingin melihat tugas kami.
“Zana, ibu mau kamu menceritakan tugas yang ibu beri.”sambil memegang buku absen. Ternyata ibu Lia melihat nomer absen paling bawah. Tanpa ragu, aku percaya diri untuk maju.
“Kemaliq, kalian tahu tidak, kalau Kemaliq itu merupakan tempat yang sakral dan suci ? Di daerah ini namanya Kemaliq Ranget yang berupa mata air. Ada salah satu tempat, dulunya pada tahun 1800 digunakan sebagai tempat bertafakur leluhur zaman dahulu. Tempat itu sangat dijaga sampai pada suatu hari tempat ini mulai di temboki oleh masyarakat pendatang yang ingin mengambil alih Kemaliq.”
“Baik Zana, cukup.” Bu Lia memotong ceritaku.
Bu Lia terdiam, sepertinya kali ini ia mengekpresikan rasa sedih.
“Kenapa Bu ?” tanyaku.
“Ibu adalah salah satu orang yang memilih mundur dari perkembangan zaman ini. Kalian tahu? Tembok besar yang sering kalian lewati saat pulang sekolah? Ya disanalah tempat leluhur bertafakur yang seharusnya kita sebagai masyarakat disini menjaga dan mempertahankan tempat itu, yang dimana bisa kita sebut Kemaliq.” menjelaskan.
Kami satu kelas merasa bersalah. Merasa terpukul dengan pengakuan ibu Lia. Padahal yang seharusnya menjadi pelindung saat ini ya generasi sekarang, generasi sepertiku. Namun tahu tentang identitas sendiri saja tidak.
“Anak-anak itulah sebabnya ibu memberikan tugas ini, agar kalian mencari tahu apa saja sejarah.”
Zana mantap
BalasHapusZana yang baru mengetahui asal muasalnya
HapusCerpen yang menarik,tetap semangat dalam berkarya
BalasHapusSemangat juga membacanya, agar tetap memperoleh informasi π
HapusCeritanya bagus.
BalasHapusWahh trimakasi banyakkk kawann ππ»π
HapusCerpen nya kerenπ
BalasHapusTerimakasih banyak sahabat ππ»π
HapusCerpen yang bagusπ
BalasHapusTerimakasih banyak sodara ku πππ»
Hapusbaguuusssss
BalasHapusTerimakasih banyak temanππ»ππ
HapusCeritanya menanrikπ
BalasHapusTerimakasih banyak orang² yang suka bacaaππ»ππ»π₯°
Hapusbagus sekali saudara Nadia Aundari
BalasHapusTerimakasih ππ»
HapusSangat mengesankan sekali ya saudari Nadia Alundari.. mantap
BalasHapusLuar biasa terimakasi kak ππ»π€
HapusSukaa banget bacanya, kalimat yang digunakan mudah dipahami ditambah lagi ada pesan moral yang bisa kita petik dari cerpennya
BalasHapusAlhamdulillah, terimakasih banyak
Hapuscerita si zana membuatku tersedihπ
BalasHapusJangan sedih kakak ππ»π₯° yang penting sana sudah tau asal muasalnya
HapusDuh tertampar ya diriku dengan cerita si Zanaπ€§
BalasHapusHuhuhu, mari sama sama kita mencari lebih dalam seluk beluk tempat kita dilahirkan ππ»
HapusSukaaa, ceritanya bagus
BalasHapusTerimakasih cantik π₯°ππ»
HapusTerharu bngt,so sadππ
BalasHapusJangan nangis hehe, seru tau ceritanya
Hapus